Our Recent Posts

Archive

Tags

Inspirasi BTS: Peniup Seruling dari Hamelin

Sebelum kita masuk ke pokok bahasan blog ini, terdapat beberapa pertanyaan yang kami ingin ARMY renungkan: kapan pertama kali kamu mendengarkan musik atau menonton film atau acara TV? Lebih spesifik, lagu/film/acara TV apa yang membuatmu menjadi penggemar seorang seniman? Siapa seniman atau selebriti yang kamu kenali saat kecil? Apakah menjadi seorang penggemar membuatmu melihat dunia secara berbeda, atau seniman tersebut membantumu keluar dari kekacauan hidup?


Apa pun jawabanmu, mereka memiliki satu persamaan: itulah cara kita diperkenalkan kepada seni dan seniman, baik dalam bentuk suara, video, atau visual. Seni adalah perpanjangan dari kita sendiri; sebuah sarana untuk mengekspresikan jati diri kita ketika kata-kata tak mampu. Namun, dalam skala yang lebih besar, seni menghubungkan kita semua, dan bahkan dapat menyatukan kita melalui pesan yang sama. Kekuatan yang melekat pada seniman atau kreator, memunculkan pondasi hubungan parasosial yang erat.


Definisi seni dan hiburan menjadi semakin membingungkan daripada sebelumnya. Apabila seorang seniman memiliki pesan, cara mereka menyampaikannya menentukan hasil hiburan dari seninya, dalam artian cara penggemar mereka akan melihatnya. Entah akan sukses, atau pesannya tidak tersampaikan antara seniman dan penggemar, hal ini jarang menjadi kesalahan si seniman. Pada nyatanya, terkadang cara sebuah perusahaan atau label mempromosikan hasil karya seniman mereka menentukan hubungan seniman dengan penggemarnya. Itulah cara kerja industri hiburan: keinginan berlebih penggemar kerap dieksploitasi untuk keuntungan perusahaan/label, membuat cerita “Peniup Seruling dari Hamelin” sebagai metafora yang tepat untuk lagu Pied Piper oleh BTS.

“Peniup Seruling dari Hamelin” berlokasi di sebuah kota dengan nama yang sama di Jerman, tempat tikus-tikus menjadi malapetaka, membuat warga kota menjadi menderita dan walikota tak dapat berkutik. Hingga akhirnya datanglah Peniup Seruling dengan seruling ajaibnya, mengaku memiliki solusi atas permasalahan ini. Sebagai imbalan, walikota menjanjikan hadiah apabila ia mampu membasmi tikus-tikus tersebut. Mampu atau tidaknya masyarakat Hamelin menyelesaikan permasalahan ini, diikuti cerita selanjutnya. Bocoran dari ceritanya akan didiskusikan lebih lanjut.

“Mungkin, ya, aku sedikit berbahaya /

Sedikit berbahaya /

Seperti Peniup Seruling yang menarikmu bersamaku /

Aku mengujimu, mengujimu /

Seperti buah terlarang yang memikatmu meski kau tahu itu terlarang /

Serulingku membangunkan semuanya /

Suaranya menggodamu lebih lagi /

Kau bereaksi, ikut bersama /

Aku bernafas tanpa henti /

Aku adalah kesenangan yang membuatmu merasa bersalah/

Kau tak bisa lari /

Tak akan pernah bisa.”

Hal yang menghubungkan cerita dan lagu di atas adalah bagaimana godaan untuk menginginkan lebih membuat kita rakus sampai lupa konsekuensi dari perbuatan kita. Meski sadar akan perbuatan kita, dampaknya adalah sesuatu yang tidak bisa kita kendalikan sepenuhnya. Pada cerita “Peniup Seruling dari Hamelin”, tokoh protagonis mampu menyelesaikan pekerjaannya dengan memikat tikus-tikus untuk masuk ke sungai. Meski begitu, walikota menuduhnya curang dan mengurangi hadiah imbalan dari persetujuan awal. Hampir sama, ketika BTS mendapat No. 1 pada tangga lagu Billboard, BTS dan ARMY dituduh oleh “asosiasi musik dan kritik musik ternama,” mempermainkan sistem.

Ketika Peniup Seruling tidak mendapatkan imbalan yang dijanjikan walikota, dia melakukan balas dendam dengan memikat anak-anak Hamelin untuk pergi jauh dari orang tua mereka, membuat mereka marah dan khawatir atas kehilangan anak-anak mereka. Ketika walikota mengetahui hal tersebut, dia mengalah dan memberikan Peniup Seruling semua yang dijanjikannya. Berdasarkan versi cerita lainnya, Peniup Seruling mengembalikan anak-anak ke orang tua mereka. Pada lagunya, RM memberitahu ARMY untuk fokus kepada pendidikan/pekerjaannya dan menonton konten BTS setelahnya, bahwa satu atau dua jam kerja akan berlalu dalam sekejap mata, dan mereka akan memberi hadiah ARMY dengan lagu ini. Singkatnya, Peniup Seruling berhenti mengontrol anak-anak ketika ia mendapatkan imbalannya, sedangkan anggota BTS sebagai Peniup Seruling memiliki hubungan tarik ulur dengan ARMY.

Manusia seringkali mencari kesenangan dan kenyamanan dari hal-hal yang kita sukai; pada kasus ini, hal itu adalah seni dan hiburan. Hal-hal tersebut dapat menjadi gangguan ketika kita kehilangan arah tentang apa yang kita lakukan dalam hidup. Seperti halnya tikus-tikus dan anak-anak yang tidak dapat menolak merdunya musik yang datang dari seruling Peniup Seruling, sebagai ARMY, kita juga tidak bisa kabur dari musik-musik BTS, sebuah paralel yang dengan tepat digambarkan melalui lirik “aku mengendalikanmu.” Jadi patut kita tanyakan pada diri sendiri, “Apakah itu membuat kita rakus, atau selayaknya manusia?”


Ditulis oleh: Anugya

Disunting oleh: Ren

Didesain oleh: Martina

Diterjemahkan oleh: Shania

Terjemahan disunting oleh: Risma dan Icha

Semua foto/video yang dibagikan di blog kami bukan milik ARMY Magazine. Segala bentuk pelanggaran hak cipta bukan hal yang disengaja.